Monday, April 4, 2016

Aku dan Pohon Tin

“I saw my life branching out before me like the green fig tree in the story. From the tip of every branch, like a fat purple fig, a wonderful future beckoned and winked. One fig was a husband and a happy home and children, and another fig was a famous poet and another fig was a brilliant professor, and another fig was Ee Gee, the amazing editor, and another fig was Europe and Africa and South America, and another fig was Constantin and Socrates and Attila and a pack of other lovers with queer names and offbeat professions, and another fig was an Olympic lady crew champion, and beyond and above these figs were many more figs I couldn't quite make out. I saw myself sitting in the crotch of this fig tree, starving to death, just because I couldn't make up my mind which of the figs I would choose. I wanted each and every one of them, but choosing one meant losing all the rest, and, as I sat there, unable to decide, the figs began to wrinkle and go black, and, one by one, they plopped to the ground at my feet.” - The Bell Jar by Sylvia Plath

Jika hidupku diibaratkan sebuah lorong, tulisan Sylvia Plath ini seolah menjadi cermin yang melapisi lorong tersebut. Kemana pun aku menengokkan kepala, Plath dan pohon tin-nya selalu memantul jelas. Terlalu jernih.

Buah tin-ku yang satu adalah seorang Chief Creative Officer di advertising agency ternama. Buah tin yang lain adalah seorang auteur yang film-filmnya selalu ada di festival film arthouse internasional. Buah tin yang lain adalah seorang produser musik dengan karakternya sendiri. Buah tin yang lain adalah seorang wirausahawan dengan berbagai macam bisnis yang ia punya.

Aku masih punya seumur hidup untuk dengan naif berusaha menjaga agar tidak ada buah yang membusuk lalu jatuh dan dikerubungi semut, belum rela untuk memutuskan hanya satu yang akan kupetik.

Wednesday, July 23, 2014

Saat menunggu nasi goreng untuk makan malamku datang, ada dua kakek-kakek di meja sebelah yang sibuk mengulik sebuah ponsel pintar, keduanya nampak sibuk, bingung sambil berdiskusi, mungkin tentang bagaimana mengoperasikannya, lalu masing-masing mencoba kamera ponsel tersebut dengan memotret satu sama lain. agak sedikit lucu melihat salah satu berusaha memotret lewat ponsel yang kelewat canggih, sementara satunya berusaha duduk tegap dan memasang senyum, siap untuk difoto.
Ada perasaan yang susah didefinisikan saat melihat mereka, perasaan hangat, haru, dan sedikit sedih.
Berapa tahun ya mereka berteman? bagaimana rasanya berteman sampai setua itu? bagaimana rasanya melihat teknologi yang semakin berkembang dan semakin membuat generasi mereka susah mengikutinya?
Begitu banyak pertanyaan di kepalaku untuk mereka, meski mereka juga sepertinya tidak terlalu memikirkannya, mungkin karena mereka saling memiliki, hal-hal tersebut jadi tidak terasa penting.

(diambil dari blog kolektif 15minslong.tumblr.com)

Rokok

Sudah sekitar satu setengah tahun ini aku merokok. Faktornya sih cukup klise, kebawa pacar. Tapi ada hal yang memang aku suka dari merokok. Rokok kurang lebih membuatku sadar tentang hidup. Apalagi dengan banyaknya himbauan untuk berhenti, semakin membuat aku tersadar akan kehidupan itu sendiri.

Dengan rokok, rasanya kita mengontrol hidup (atau mati) kita sendiri dalam beberapa menit. Setiap hisapannya membuat aku sadar kalau ada paru-paru yang membuatku hidup. Di satu waktu, rokok membuatku lebih mudah untuk bergaul, di waktu lain, saat merokok sendirian, rokok itu semacam media kontemplasi.

Saat kita menghancurkan sesuatu, saat itu juga kita bisa tahu nilai dari sesuatu yang kita hancurkan, mungkin itu juga hal filosofis dari rokok dan hidup. Jadi untuk saat ini, aku masih belum terpikir untuk berhenti, karena aku masih mencari tahu apa maksud dari hidup itu sendiri.

(diambil dari blog kolektif 15minslong.tumblr.com)

Wednesday, May 30, 2012

Kemarin malam seorang anak laki-laki menghampiri saya sambil menawarkan mainan puzzle yang dia jual. bahkan sebelum dia menjajakan mainan tersebut, terllihat raut muka pasrah dan hilang harapan, tahu bahwa saya tidak akan membeli bahkan mencari tahu mainan apa itu.

Selain membuat saya teringat akan adik saya yang paling kecil, raut muka anak itu membuat saya ingin menangis. kehilangan harapan merupakan hal paling menyedihkan di dalam hidup ini, dan saya menemukannya di matanya.

Saya langsung kalang kabut mencari uang yang tersisa di kantong, dan cukup kesal karena  saat itu saya tidak membawa banyak uang. saya berikan semua sisa uang di kantong, lalu dia dengan bingung mencari-cari puzzle mana yang akan dia jual. saya bilang, "tidak usah, ini buat kamu saja." dan dia tidak menyentuh uangnya, saya selipkan saja uang tersebut di tumpukan puzzle yang dia jual. rasanya ingin memohon agar dia menerimanya.

Saya langsung berjalan kaki pulang, cukup yakin air mata saya akan leleh jika tetap berdiri didepan anak itu barang beberapa detik saja. saya harap dia menerima uang saya, meski saya tahu itu tidak seberapa dan tidak membantu apa-apa.

Dan raut muka anak itu masih menghantui saya. saat ini tidak ada hal yang paling saya inginkan selain mengembalikan harapan hidup anak tersebut, entah bagaimana caranya.

Tolong bertahan ya.
bukan melepaskan
bukan melupakan
hanya mengikhlaskan
dan membiarkan waktu memberi jawaban

Friday, May 25, 2012

Sayonara Sarasvatī

badai tunggal tercipta di awal almanak
lepas kendali lima rembulan
membuahkan adiksi janggal

sang dewa datang, badai pun terganggu
tinggallah aku menangisi sang dewi yang terbuai nafsu

Tuesday, May 8, 2012

213

refleksimu nampak dari dalam kaca bis
yang beruap dari dalam dan berembun dari luar.
tersaru dalam pola rintik hujan yang tak teratur.

kau membuat lini masa menjadi elastis.

mengetat saat kau dekat.
merenggang saat kau hilang.

dan genangan rinduku mencipratkan tetesannya kala bis melaju.