Wednesday, May 30, 2012

Kemarin malam seorang anak laki-laki menghampiri saya sambil menawarkan mainan puzzle yang dia jual. bahkan sebelum dia menjajakan mainan tersebut, terllihat raut muka pasrah dan hilang harapan, tahu bahwa saya tidak akan membeli bahkan mencari tahu mainan apa itu.

Selain membuat saya teringat akan adik saya yang paling kecil, raut muka anak itu membuat saya ingin menangis. kehilangan harapan merupakan hal paling menyedihkan di dalam hidup ini, dan saya menemukannya di matanya.

Saya langsung kalang kabut mencari uang yang tersisa di kantong, dan cukup kesal karena  saat itu saya tidak membawa banyak uang. saya berikan semua sisa uang di kantong, lalu dia dengan bingung mencari-cari puzzle mana yang akan dia jual. saya bilang, "tidak usah, ini buat kamu saja." dan dia tidak menyentuh uangnya, saya selipkan saja uang tersebut di tumpukan puzzle yang dia jual. rasanya ingin memohon agar dia menerimanya.

Saya langsung berjalan kaki pulang, cukup yakin air mata saya akan leleh jika tetap berdiri didepan anak itu barang beberapa detik saja. saya harap dia menerima uang saya, meski saya tahu itu tidak seberapa dan tidak membantu apa-apa.

Dan raut muka anak itu masih menghantui saya. saat ini tidak ada hal yang paling saya inginkan selain mengembalikan harapan hidup anak tersebut, entah bagaimana caranya.

Tolong bertahan ya.
bukan melepaskan
bukan melupakan
hanya mengikhlaskan
dan membiarkan waktu memberi jawaban

Friday, May 25, 2012

Sayonara Sarasvatī

badai tunggal tercipta di awal almanak
lepas kendali lima rembulan
membuahkan adiksi janggal

sang dewa datang, badai pun terganggu
tinggallah aku menangisi sang dewi yang terbuai nafsu

Tuesday, May 8, 2012

213

refleksimu nampak dari dalam kaca bis
yang beruap dari dalam dan berembun dari luar.
tersaru dalam pola rintik hujan yang tak teratur.

kau membuat lini masa menjadi elastis.

mengetat saat kau dekat.
merenggang saat kau hilang.

dan genangan rinduku mencipratkan tetesannya kala bis melaju.

Monday, May 7, 2012

apa guna berlari?
angin dan adrenalin cuma menciderai
kaki malang ini
lagi.