Wednesday, July 23, 2014

Saat menunggu nasi goreng untuk makan malamku datang, ada dua kakek-kakek di meja sebelah yang sibuk mengulik sebuah ponsel pintar, keduanya nampak sibuk, bingung sambil berdiskusi, mungkin tentang bagaimana mengoperasikannya, lalu masing-masing mencoba kamera ponsel tersebut dengan memotret satu sama lain. agak sedikit lucu melihat salah satu berusaha memotret lewat ponsel yang kelewat canggih, sementara satunya berusaha duduk tegap dan memasang senyum, siap untuk difoto.
Ada perasaan yang susah didefinisikan saat melihat mereka, perasaan hangat, haru, dan sedikit sedih.
Berapa tahun ya mereka berteman? bagaimana rasanya berteman sampai setua itu? bagaimana rasanya melihat teknologi yang semakin berkembang dan semakin membuat generasi mereka susah mengikutinya?
Begitu banyak pertanyaan di kepalaku untuk mereka, meski mereka juga sepertinya tidak terlalu memikirkannya, mungkin karena mereka saling memiliki, hal-hal tersebut jadi tidak terasa penting.

(diambil dari blog kolektif 15minslong.tumblr.com)

Rokok

Sudah sekitar satu setengah tahun ini aku merokok. Faktornya sih cukup klise, kebawa pacar. Tapi ada hal yang memang aku suka dari merokok. Rokok kurang lebih membuatku sadar tentang hidup. Apalagi dengan banyaknya himbauan untuk berhenti, semakin membuat aku tersadar akan kehidupan itu sendiri.

Dengan rokok, rasanya kita mengontrol hidup (atau mati) kita sendiri dalam beberapa menit. Setiap hisapannya membuat aku sadar kalau ada paru-paru yang membuatku hidup. Di satu waktu, rokok membuatku lebih mudah untuk bergaul, di waktu lain, saat merokok sendirian, rokok itu semacam media kontemplasi.

Saat kita menghancurkan sesuatu, saat itu juga kita bisa tahu nilai dari sesuatu yang kita hancurkan, mungkin itu juga hal filosofis dari rokok dan hidup. Jadi untuk saat ini, aku masih belum terpikir untuk berhenti, karena aku masih mencari tahu apa maksud dari hidup itu sendiri.

(diambil dari blog kolektif 15minslong.tumblr.com)